XOfanfict by admin @SNICKERS_JKT
#XOfanfict
Part11
PERTHATIAN!!!
Ini
hanyalah cerita khayalan!
Just
for fun!
Have
a fun reading ya!
Fiction
story by admin @SNICKERS_JKT
HARUSKAH
INI BERAKHIR??
Nicky: “siapa?”
Gue: “siapa apanya?”
Nicky: “yang nge-bbm kamu, siapa?”
Gue: “Hendra”
Nicky: “ada apa sama Hendra?”
Gue: “Hendra ngasih tau kalau Vanya kecelakaan Nick”
Nicky: “serius? Sekarang dia di Rumah Sakit mana?”
Gue: “udah aku tanya sama Hendra, tapi belum di bales lagi”
Nicky: “si Hendra pasti panik deh, kira-kira ada apa lagi ya sama mereka?”
Gue: “entahlah... eh, Nick, udah dibales nih sama Hendra! Mereka ada di
Rumah Sakit Medika”
Nicky: “OK! Kita susul mereka sekarang! Bilangin sama Hendra, jangan
panik”
Gue: “sip!”
Mobil yang dikendarai
Nicky langsung melaju menuju Rumah Sakit tujuan kita. Sesampainya disana, kita
langsung menuju ruangan UGD tempat Vanya mendapatkan pertolongan pertama dari
dokter. Hendra terduduk di kursi tunggu di depan ruangan UGD tersebut. Terlukis
kekhawatiran yang teramat sangat dari wajahnya, kami pun menghampirinya dan
duduk disampingnya.
Gue: “gimana keadaan Vanya Ndra?”
Hendra: “gue juga belum tau Cin”
Gue: “kenapa bisa sampai kayak gini sih Ndra?”
Hendra: “ini semua salah gue”
Hendra mulai menitikkan
air mata. Nicky berbisik ke gue.
Nicky: “jangan ditanya sekarang Cin, Hendra masih belum tenang”
Gue hanya menggangguk.
Nicky: “lo tenang dulu aja Ndra, yang bisa kita lakuin sekarang cuma
berdoa aja supaya Vanya gak kenapa-napa”
Hendra: “iya, lo bener Nick, gue harap Vanya baik-baik aja. Karena kalau
Vanya kenapa-napa, gue akan nyesel seumur hidup gue”
Setelah nunggu beberapa
lama, akhirnya dokter keluar dari ruang UGD itu. Hendra langsung beranjak dari
tempat duduknya langsung menghampiri dokter itu.
Hendra: “bagaimana keadaan Vanya dok?”
Dokter: “Vanya sudah melewati masa kritisnya, hanya saja dia belum sadar.
Saya hanya bisa berharap benturan yang ia terima dikepalanya tidak berpengaruh
banyak terhadap dirinya. Pemeriksaan lebih lanjut hanya dapat kami lakukan
setelah ia sadar”
Hendra: “terima kasih ya dok”
Dokter: “iya sama-sama, Vanya akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap
setelah ia sadar. Mari saya tinggal dulu”
Gue, Hendra dan Nicky: “iya dok, silahkan”
Hendra masuk ke ruang
UGD tempat Vanya masih tak sadarkan diri, gue dan Nicky nyusul masuk kedalem.
Hendra terduduk di kursi yang berada tepat disamping tempat Vanya berbaring. Ia
menangis tersedu sambil menggenggam erat tangan Vanya dan selalu mengulang tiga
kata ini “maafin gue Van”. Gue jadi penasaran, apa yang terjadi sama mereka
berdua? Kenapa Hendra ngerasa bersalah sampai kayak gini? Gak lama Vanya sadar
dan kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. Gue sama Nicky niggalin Hendra
sama Vanya berdua di ruangan itu.
Di ruang tunggu.
Nicky: “aku beli minum dulu ya Cin”
Gue: “iya”
Nicky: “mau nitip apa?”
Gue: “apa aja deh, terserah kamu”
Nicky: “oke”
Baru saja beberapa
langkah Nicky pergi ninggallin gue Hendra keluar dari ruangan Vanya sambil
menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Hendra duduk di sebelah gue.
Gue: “sorry nih sebelumnya Ndra, apa gue boleh tau ada apa dengan kalian
sampai Vanya kayak gini?”
Hendra: “ceritanya panjang, intinya sih... Vanya coba minta maaf sama gue
berkali-kali, tapi gue tolak juga berkali-kali. Dia ngikutin gue terus, gue
nyebrang jalan, dia juga, tapi mungkin dia gak liat ada mobil. Dia keserempet,
dan kepalanya ngebentur trotoar. Gue ngerasa bersalah banget sama dia”
Gue: “sekarang, apa lo udah maafin dia?”
Hendra: “udah, tapi gue tetep ngerasa bersalah sama dia”
Gue: “lo sebelumnya gak mau maafin dia gara-gara gue ya?”
Hendra mengangguk.
Gue: “gue kan udah bilang sama lo, kalau gue udah maafin Vanya. Gue kira
lo juga udah maafin dia”
Hendra: “gue sekarang bingung gimana caranya ngilangin rasa bersalah ini”
Gue: “hmm... gimana yah?”
Nicky datang membawa
beberapa makanan kecil dan dua botol air putih. Nicky menghambur dan duduk di
sisi lain Hendra duduk, yang juga di sebelah gue.
Nicky: “ciee... berduaan! Ngomongin apaan nih? Mau tau dong!”
Gue: “ahh bisa aja kamu Nick, kita lagi ngomongin Vanya. Menurut kamu..
gimana caranya supaya Hendra bisa ngilangin rasa bersalahnya ke Vanya?”
Nicky: “gini aja Ndra, lo jagain dia setiap hari di rumah sakit. Lo rawat
dia. dijamin dia gak akan nolak lo. Dia kan sayang sama lo.”
Hendra: “iya juga sih, tapi apa lo yakin dia gak akan marah dan nolak gue
untuk ngerawat dia?”
Nicky: “yakin gue! Coba aja lo ngomong dulu baik-baik sama dia. Dia juga
pasti ngerti kok alesan lo mau ngerawat dia”
Hendra: “tapi tadi aja dia ngediemin gue Nick”
Nicky: “mungkin dia cuma masih shock aja Ndra, dia juga butuh waktu
sendiri”
Hendra: “mungkin. Ya udah besok gue akan coba ngomong baik-baik lagi deh
sama dia”
Nicky: “nah, gitu dong! Itu baru Hendra! Ohh iya, gue sama Cindy pamit
pulang duluan ya Ndra. Kalau sempet besok kita kesini lagi deh. Titip salam
sama Vanya ya Ndra. Jangan galau terus ya Ndra!”
Hendra: “iya, makasih ya Nick... Cin... udah nyempetin dateng. Nanti gue
sampein salamnya sama Vanya”
Nicky: “ayuuk balik Cin!”
Gue: “ayoo!”
Gue dan Nicky: “balik dulu ya Ndra”
Hendra: “iya, hati-hati di jalan ya kalian”
Gue dan Nicky: “iya”
Gue dan Nicky berjalan
menjauh dari Hendra. Nicky nganterin gue sampe rumah. Di rumah, gue disambut
sama kak Budi dan bau “lagsana” makanan favorit gue. Gue nyamperin ka Budi di meja
makan.
Gue: “baunya enak nih kak”
Kak Budi: “makan aja dek”
Gue: “pasti itu sih, gak akan nolak haha”
Kak Budi: “haha dasar ya adekku yang satu ini, setiap ketemu lagsana
pasti makannya lahap deh”
Gue: “hehe iya dong kak! btw, honor baru turun dari Alwin ya kak?”
Kak Budi: “yaaa gitu deh dek”
Gue: “pantesan beli lagsana haha”
Lagsana gue habis dengan
cepat. Gue kenyang dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar untuk tidur. Dikamar
gue ada sebuah amplop warna merah, gue buka dan gue baca isinya.
Heh, Cindy!!! Udah deh yaaa... lo putusin aja tuh si Nicky!!! Nicky
kebagusan buat lo!! Lo gak cocok sama dia!! sebagai fans nicky, gue sangat amat
tidak setuju kalau lo sama dia. kalau gue masih liat lo sama dia, gue gak akan
berhenti neror lo!
Tertanda: orang yang benci lo!!
Gue: ya ampun! Ini fans fanatik banget! Kurang kerjaan deh!
Kalau readers fanfict
ini sih gak boleh fanatic yaa :)
Hari-hari berlalu cepat,
nicky makin sibuk sama kerjaannya, gue makin sibuk sama skripsi gue. Orang waktu
itu neror gue bener-bener neror gue secara intens. Makin lama terornya juga
makin serem. Gue masih belum cerita sama Nicky sampai sekarang, gue gak mau
ganggu dan nambah beban dia aja. Tiba-tiba pintu kamar gue diketuk sama kak
Budi.
Gue: “iya, ada apa kak?”
Kak Budi: “ada surat buat lo!”
Gue: “dari?”
Kak Budi: “bokap”
Gue buka pintu kamar dan
ngambil surat dari tangan kak Budi lalu kembali lagi ke kamar. Gue mulai baca
surat itu pelan-pelan.
Untuk anak bapak yang paling cantik Cindy,
Gimana kabarmu? Semoga
baik-baik aja yaa. Maaf kalau bapak tiba-tiba kirim surat buat kamu. Bapak mau
kasih tau kamu beberapa hal. Pertama, kamu tau kan kalau bapak bukan ayah
kandung kamu? Ayah kandung kamu pernah pesen sama bapak untuk jagain kamu dan
ibu kamu baik-baik. Kamu juga udah tau itu kan? Intinya, ada satu pesan lagi
dari ayah kandung kamu yang belum bapak kasih tahu sama kamu, dan bapak mau
kasih tau kamu lewat surat ini. Kamu sudah dijodohkan oleh ayah kandungmu
dengan Willy, kakak dari Nicky sahabat kamu. Bapak harap kamu gak kaget baca
surat ini dan mau nurutin keinginan terakhir ayah kandungmu. Sekian surat dari
bapak. Jaga kesehatan ya disana! Salam buat Budi! Ibu sama Bapak kangen kalian.
Ohh iya, sepertinya tanggal 21 Willy akan berkunjung ke Jakarta. Bapak harap
kamu bisa sambut dia dengan baik. Bapak gak maksa kamu, semua keputusan ada di
tangan kamu.
Dari bapak yang merindukanmu
Dada gue tiba-tiba jadi
sesak setelah membaca surat dari bapak. Kenapa harus ada perjodohan? Kenapa itu
jadi permintaan terakhir ayah? Dan kenapa orang itu harus kak Willy? Kenapa
bukan Nicky aja? Kalau gue terima perjodohan ini, gimana dengan Nicky? tapi
kalau gue tolak, apa ayah akan tenang disana? Mood gue langsung berubah 180˚
gue terduduk dilantai dan menangis. Saat ini, cuma menangis yang bisa gue
lakukan untuk mengurangi kegalauan gue.
TOK!! TOK!! TOK!! Kak
Budi ngetuk pintu kamar gue lagi.
Gue: “ada apa lagi kak?” sambil mencoba berhenti menangis.
Kak Budi: “ada tamu buat kamu”
Gue: “siapa?”
Kak Budi: “Willy”
Hah? Kak Willy udah ada
disini? Gue segera ngmbil kalender, dan ternyata bener, sekarang tanggal 21.
Kak Budi: “buruan! Ditungguin Willy tuh di ruang tamu!”
Gue: “iya kak”
Gue keluar kamar dan
nyamperin kak Willy di ruang tamu.
Kak Willy: “hai Cin! Long time no see ya! Makin cantik aja nih”
Gue: “hai juga kak! haha bisa aja nih”
Kak Willy: “gue kesini mau agomongin masalah...”
Gue: “jangan disini ya kak, kak Budi belum tau. Sambil jalan-jalan aja
ngomonginnya”
Kak Willy: “boleh, sekalian gue nikmatin Jakarta juga haha”
Gue: “kak Budi, Cindy pamit keluar dulu yaa mau nemenin kak Willy
keliling kota Jakarta”
Kak Budi: “iya boleh, jagain adek gue ya Wil”
Kak Willy: “pasti Bud, yaudah kita jalan dulu yaa”
Kak Budi: “iya, hati-hati dijalan ya kalian”
Gue dan kak Willy
akhirnya menuju salah satu mall di Jakarta. Setelah keliling-keliling dan
belanja kita makan dulu dan mulain ngobrolin masalah tadi lagi.
Kak Willy: “buat masalah yang tadi mau aku mau omongin kamu udah tau kan?”
Waduh gawat nih, kak
Willy udah aku-kamua an aja.
Gue: “udah”
Kak Willy: “kalau aku sih terima masalah perjodohan ini, karena jujur,
kakak sayang sama kamu Cin. Tapi keputusan tetep kakak kasih ke kamu”
Gue: “aku bisa minta waktu kan kak? aku gak siap kalau harus jawab
sekarang”
Kak Willy: “boleh, kakak di Jakarta seminggu kok, tapi kalau bisa jangan
lebih dari itu yaa... kakak harus kasih kabar yang pasti juga buat keluarga
kakak soalnya”
Gue: “apa Nicky udah tau soal ini?”
Kak Willy: “belum, aku kan belum ke kostan dia”
Gue: “ohh gitu, jangan dikasih tahu dulu ya kak, biar Cindy aja yang
kasih tau Nicky”
Kak Willy: “kenapa?”
Gue: “aku kan... sahabatnya jadi pasti lebih nyantai kalau jelasin”
Kak Willy: “ohh yasudah”
Kami pulang. Dirumah,
gue bener-bener berfikir. Apa yang harus gue lakuin? Haruskah gue terima
perjodohan gue dengan kakak pacar gue sendiri? Tapi ini permintaan ayah gue,
gue gak bisa nolak, kecuali kak Willy juga nolak. Haruskah ini berakhir?
Di BBM
Nicky Riyant
Malam pacar :) udah tidur belum?
Cindy Agatha
Belum nih
Nicky Riyant
Tidur dong, nanti sakit loh
Cindy Agatha
Iya bentar lagii.. kamu belum tidur?
Nicky Riyant
Belum, lagi ngobrol2 sama kak Willy
Cindy Agatha
Ohh, eh, besok ketemuan yuuk! Kamu gak ada jadwal kan?
Nicky Riyant
Ada sih, tapi malem kok, jadi paginya bisa jalan, ada apa sih?
Cindy Agatha
Ada yang mau aku bicarain sama kamu
Nicky Riyant
Ngomongin apa? Kangen ya sama aku? Hehe
Cindy Agatha
Ada deh, besok juga tahu kok. Hmm.. dikit
Nicky Riyant
Masa dikit? Gak percaya :p
Cindy Agatha
Yaah ketahuan deh
Nicky Riyant
Haha ketahuan. Aku juga kangen sama kamu.. banget malah :)
Cindy Agatha
:)
Nicky Riyant
Besok aku jemput jam 7 yaa, yaudah tidur gih :)
Cindy Agatha
Iya, kamu juga yaa... :)
Nicky Riyant
Iya :)
Cindy Agatha
Nick
Nicky Riyant
Ya?
Cindy Agatha
I love you
Nicky Riyant
Tumben Cin, love you too :* met tidur cantik
Cindy Agatha
Met tidur juga ganteng
BBMan selesai. Dan besok
gue akan ceritain semuanya ke Nicky, gue harap dia bisa ngerti.
Jam 7 pagi bunyi klakson
mobil Nicky sudah terdengar. Gue langsung keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Nicky: “pagi princess Cindy”
Gue: “pagi juga prince Nicky”
Nicky: “mau kemana hari ini?”
Gue: “ke Bogor aja yuuk!”
Nicky: “hah Bogor? Ngapain?”
Gue: “iya Bogor, ke tempat kita foto-foto waktu itu loh”
Nicky: “ohh itu, sip, kita meluncur!”
Bahagia, hanya satu
eksperesi itu saja yang tampak di wajah Nicky pagi ini. Apa saat pulang nanti
ekspresinya akan berubah? Apa gue akan menyakiti hatinya dan membuatnya
kehilangan semua semangatnya? Gue harap tidak.
Kita tiba di tempat,
mengenang masa lalu dan kembali berfoto dengan beragam ekspresi. Selelsai
berfoto, gue mulai bicara serius.
Gue: “Nick, aku..... mau kita putus”
Nicky terlihat kaget.
Nicky: “hah? Kenapa?”
Gue: “ayah, dia udah ngejodohin aku sama seseorang, aku gak bisa nolak
permintaan ayah, karena itu permintaan terakhirnya. Maaf Nick, aku sama sekali
gak bermaksud nyakitin perasaan kamu. Perasaanku juga sakit, karena yang aku
sayang cuma kamu. Antonius Nicky Riyant. Maaf banget”
Gue menagis. Nicky meluk
gue, mencoba membuat gue lebih tenang. Dalam kehangatan pelukannya, gue denger
Nicky terisak. Sumpah, gue gak tega buat dia nangis. :’(
Gue: “maafin aku...”
Nicky ngelepas
pelukannya.
Nicky: “aku gakpapa kok, emangnya kamu dijodohn sama siapa? Apa aku
kenal?”
Gue: “sama..... kakak kamu”
Nicky: “maksud kamu kak Willy?”
Gue: “iya”
Nicky: “ternyata dia yang beruntung, kak Willy baik kok, dia juga sayang
sama kamu, aku yakin dia bisa buat kamu bahagia”
Gue: “sekali lagi aku minta maaf, aku....”
Telunjuk Nicky menempel
di bibir gue, menghentikan gue yang sedang bicara.
Nicky: “kalau ini udah keputusan kamu, aku gakpapa kok. Lagipula yang
dijodohin sama kamu kan kak Willy, kakakku sendiri, jadi aku gak khawatir.
Cinta gak harus memiliki kan? Kalau Tuhan bilang kamu takdir aku, maka cepat
atau lambat, kita tetap akan bersatu. Percayalah sama cinta aku buat kamu dan
takdir Tuhan untuk kita”
‘Haruskah kamu setegar
ini Nick? Haruskah kamu sedewasa ini? Aku makin susah ngelepasin kamu kalau
kayak gini caranya’gumam gue dalam hati.
Nicky: “tapi aku punya 1 permintaan”
Gue: “apa?”
Nicky: “aku gak mau kita putus hari ini. Aku gak mau kita putus dengan sedih-sedihan kayak gini. Aku
mau kita putus dengan baik-baik dan dengan kenangan indah. Aku mau besok kamu
jalan sama aku. Kita pacaran, untuk yang terakhir kalinya. Menciptakan kenangan
indah dibalik perpisahan kita. Apa kamu mau menuhin permintaan itu?”
Gue mengangguk. Nicky
memeluk gue erat, ini menyiratkan bahwa dia sebenarnya tak sanggup kehilangan
gue. Maafin gue Nick...
**********
Part
selanjutnya ditunggu aja yaa, diusahakan secepatnya kok :) Untuk komentar,
kritik dan saran kalian kita tunggu yaa, mention aja komentar, kritik dan saran
kalian ke @SNICKERS_JKT yaa :)
Nb: maaf kalau ada salah-salah
penulisan kata dan ceritanya agak lebay, maklum yaa adminnya masih ababil
hihhihi ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar