XOfanfict by admin @SNICKERS_JKT
#XOfanfict
Part12
PERTHATIAN!!!
Ini
hanyalah cerita khayalan!
Just
for fun!
Have
a fun reading ya!
Fiction
story by admin @SNICKERS_JKT
OUR LAST DAY
Sekitar jam 8 pagi, Nicky datang
jemput gue dan ngajak gue ke suatu tempat. Turun dari mobil, hanya ilalang-ilalang
tinggi yang tampak. Indah, walau mengganggu jalan kami. Nicky menuntun gue
melewati ilalang dan sampailah kita di sebuah danau. Gue gak nyangka ada danau
seindah ini, sayang keindahannya terbatasi ilalang, jadi tempat seindah ini
hanya dapat dinikmati segelintir orang saja. Nicky kembali menarik tangan gue
dan membawa gue menaiki sebuah sampan. Di sampan itu ada sebuah gitar akustik
milik Nicky, mungkin akan ia gunakan nanti. Kami mulai mendayung hingga sampai
di tengah danau. Nicky berhenti mendayung dan mengambil gitar akustik miliknya.
Nicky mulai bernyanyi “thank you for loving me”. He has a really good voice.
Apa gue bisa denger suaranya seindah ini lagi setelah hari ini?
Gue: “nice voice Nick”
Nicky: “thank’s”
Gue: “..........”
Nicky: “aku ada sesuatu buat kamu, sekarang kamu tutup mata dulu”
Gue: “nice voice Nick”
Nicky: “thank’s”
Gue: “..........”
Nicky: “aku ada sesuatu buat kamu, sekarang kamu tutup mata dulu”
Gue tutup mata.
Nicky: “ulurin tangan kamu”
Nicky: “ulurin tangan kamu”
Gue ngulurin tangan kanan gue. Yang gue rasain adalah Nicky memakaikan sesuatu di tangan gue.
Nicky: “buka mata kamu! Tapi pelan-pelan yaa...”
Gue mulai buka mata perlahan dan
liat apa yg ada di tangan gue. Gelang tali yang ditengahnya terdapat kayu yg
diukir nama gue.
Nicky: “coba balik kayu yang berukirkan nama kamu”
Nicky: “coba balik kayu yang berukirkan nama kamu”
Gue balik dan ternyata ada ukiran
huruf “N” tipis disana.
Nicky: “N disitu inisial namaku. Aku juga pake gelang yang sama kayak kamu, hanya saja ukirannya Nicky dan dibaliknya inisial C, inisial nama kamu. Maaf, karena cuma gelang ini aja yang bisa aku kasih buat kamu sebagai hadiah perpisahan kita. Aku mau kamu simpan gelang ini, seperti kamu simpan perasaan kamu dalam-dalam demi memenuhi permintaan terakhir ayah kamu”
Gue: “makasih ya Nick, aku janji akan jaga gelang ini baik-baik. Begitu pula dengan kenangan-kenangan indah kita berdua, aku gak akan pernah lupain itu”
Nicky: “sama-sama, ..............I’ll love you forever, even tough you can’t be mine, Cin”
Gue: “I’ll love you forever too, even tough you can’t be mine, Nick”
Nicky: “N disitu inisial namaku. Aku juga pake gelang yang sama kayak kamu, hanya saja ukirannya Nicky dan dibaliknya inisial C, inisial nama kamu. Maaf, karena cuma gelang ini aja yang bisa aku kasih buat kamu sebagai hadiah perpisahan kita. Aku mau kamu simpan gelang ini, seperti kamu simpan perasaan kamu dalam-dalam demi memenuhi permintaan terakhir ayah kamu”
Gue: “makasih ya Nick, aku janji akan jaga gelang ini baik-baik. Begitu pula dengan kenangan-kenangan indah kita berdua, aku gak akan pernah lupain itu”
Nicky: “sama-sama, ..............I’ll love you forever, even tough you can’t be mine, Cin”
Gue: “I’ll love you forever too, even tough you can’t be mine, Nick”
Kami saling bertatap, cukup lama
hingga tak lama gue liat mata Nicky berkaca-kaca. Walau matanya berkaca-kaca,
Nicky tak membiarkan setetes air matanya pun mengalir. Melihat hal itu, gue
jadi gak sadar kalau air mata mulai mengalir di pipi gue.
Nicky: “kenapa kamu nangis?”ucapnya sambil memaksakan tersenyum.
Gue: “aku gak mau kehilangan kamu”
Nicky: “kamu gak akan pernah kehilangan aku Cin. Walaupun nantinya kamu bukan pacar aku, kita tetep sahabat kayak dulu. Aku akan selalu ada buat kamu, setiap kamu butuh aku”
Nicky: “kenapa kamu nangis?”ucapnya sambil memaksakan tersenyum.
Gue: “aku gak mau kehilangan kamu”
Nicky: “kamu gak akan pernah kehilangan aku Cin. Walaupun nantinya kamu bukan pacar aku, kita tetep sahabat kayak dulu. Aku akan selalu ada buat kamu, setiap kamu butuh aku”
Gue menghapus air mata di pipi gue.
Nicky: “udah yaa nangisnya... pokoknya hari ini kita harus seneng-seneng! Gak boleh sedih! Janji yaa sama aku!”
Nicky tersenyum sambil mengulurkan jari kelingkingnya sama gue. Gue bales senyum dan gue sambut jari kelingking Nicky dengan jari kelingking gue.
Nicky: “dayung ke tepi lagi yuuk!”
Gue: “ayuuk! Abis ini kita kemana lagi?”
Nicky: “masih banyak tempat buat hari ini, liat aja nanti, tempat terakhir nanti malem disini lagi”
Gue: “wah asik tuh!”
Nicky: “udah yaa nangisnya... pokoknya hari ini kita harus seneng-seneng! Gak boleh sedih! Janji yaa sama aku!”
Nicky tersenyum sambil mengulurkan jari kelingkingnya sama gue. Gue bales senyum dan gue sambut jari kelingking Nicky dengan jari kelingking gue.
Nicky: “dayung ke tepi lagi yuuk!”
Gue: “ayuuk! Abis ini kita kemana lagi?”
Nicky: “masih banyak tempat buat hari ini, liat aja nanti, tempat terakhir nanti malem disini lagi”
Gue: “wah asik tuh!”
Kami kembali mendayung sampan
hingga tepi. Melewati ilalang lagi dan kembali ke dalam mobil Nicky untuk menuju
ke tempat selanjutnya. Di dalam perjalan yang gue lakuin cuma memandangi wajah
Nicky.
Nicky: “kamu kenapa sih kok aku diliatin terus?”
Gue: “gakpapa, lagi pengen liatin cowok kece aja haha”
Nicky: “baru tau aku kece? Kemaren-kemaren kemana aja mbaaa hahaha”
Gue: “jah, narsisnya keluar deh”
Nicky: “haha... puas-puasin deh kamu liat cowok kece hari ini. Besok-besok gak boleh yaa... apalagi di depan kak Willy”
Nicky: “kamu kenapa sih kok aku diliatin terus?”
Gue: “gakpapa, lagi pengen liatin cowok kece aja haha”
Nicky: “baru tau aku kece? Kemaren-kemaren kemana aja mbaaa hahaha”
Gue: “jah, narsisnya keluar deh”
Nicky: “haha... puas-puasin deh kamu liat cowok kece hari ini. Besok-besok gak boleh yaa... apalagi di depan kak Willy”
Gue berhenti memandangi Nicky dan
terdiam dengan tatapan kosong ke depan.
Nicky: “kok diem?”
Gue: “jangan bahas masalah kak Willy dulu ya hari ini, yang aku mau hari ini cuma kamu, bukan yang lain”
Nicky: “iya, maafin aku yaa”
Gue: “sekarang kita mau kemana?”
Nicky: “ke mall”
Gue: “ngapain?”
Nicky: “belanja”
Gue: “belanja apaan?”
Nicky: “bahan makanan, baju dan mainan”
Gue: “buat apa?”
Nicky: “nanti juga kamu tau kok”
Gue: “oke”
Nicky: “kok diem?”
Gue: “jangan bahas masalah kak Willy dulu ya hari ini, yang aku mau hari ini cuma kamu, bukan yang lain”
Nicky: “iya, maafin aku yaa”
Gue: “sekarang kita mau kemana?”
Nicky: “ke mall”
Gue: “ngapain?”
Nicky: “belanja”
Gue: “belanja apaan?”
Nicky: “bahan makanan, baju dan mainan”
Gue: “buat apa?”
Nicky: “nanti juga kamu tau kok”
Gue: “oke”
Gue dan Nicky akhirnya sampai di
sebuah mall dan berbelanja banyak hal disana, dari mulai bahan makanan, baju
anak-anak, sampai mainan. Gue cuma bisa ikutin maunya Nicky aja, karena gue
juga belum ngerti tujuannya Nicky apa. Setelah selesai berbelanja, kita kembali
ke mobil dan jalan lagi ke suatu tempat. 20 menit kemudian mobil berhenti,
tepat di halaman sebuah panti asuhan. Panti asuhan dengan nama “Bakti Mulia”.
Panti asuhan yang dulu, saat sebelum Nicky seterkenal sekarang, sering sekali
kami kunjungi. Tempat kami berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yang kurang
beruntung.
Gue: “tempat ini.....”
Nicky: “udah lama banget ya kita gak kesini?”
Gue: “iya, tapi... kenapa kamu bawa kita kesini?”
Nicky: “selain untuk mengenang masa lalu. Aku juga mau berbagi kebahagiaan, jadi... gak cuma kita aja yang bahagia hari ini, tapi mereka juga”
Gue: “tempat ini.....”
Nicky: “udah lama banget ya kita gak kesini?”
Gue: “iya, tapi... kenapa kamu bawa kita kesini?”
Nicky: “selain untuk mengenang masa lalu. Aku juga mau berbagi kebahagiaan, jadi... gak cuma kita aja yang bahagia hari ini, tapi mereka juga”
Mendengar itu, gue tersenyum.
Terharu. Ternyata ketenaran tidak pernah merubah Nicky sedikitpun. Ia tetap
pribadi yang dewasa, bijaksana, penyayang, rendah hati dan suka berbagi.
Rasanya semakin sulit untuk gue melepaskannya. Dia terlalu sempurna buat gue.
Kita turun dari mobil dan semua anak-anak panti asuhan itu langsung mengerubungi
kita.
Gue: “hallo adek-adek...”
Anak-anak: “haloo kak! udah lama nih gak kesini”
Nicky: “iya nih, maaf yaa kita berdua jarang kesini. Mau mainan gak?”
Anak-anak: “MAU!!! yeay dapet mainan!!”
Nicky: “ya udah nih, satu-satu yaa semuanya...”
Gue dan Nicky mulai membagikan mainan kepada anak-anak itu.
Gue: “udah dapet semua belum nih??”
Anak-anak: “udah kak! makasih yaa!”
Nicky: “sama-sama, bu Tia nya ada dimana adek-adek?”
Anak-anak: “ada di ruangannya kak, masuk aja”
Nicky: “ohh gitu. Oke, eh, adek-adek, kak Nicky mau minta tolong bawain makanannya yaa, habis ini kita masak yang enak bareng-bareng, mau?”
Anak-anak: “mau!!”
Gue: “ada baju juga tuh buat kalian, pilih aja ya masing-masing! Tapi yang adil ya ngebaginya”
Anak-anak: “sip deh kakak”
Nicky: “ya udah, kakak sama kak Cindy ke ruangannya bu Tia dulu ya sebentar”
Anak-anak: “sip”
Gue: “hallo adek-adek...”
Anak-anak: “haloo kak! udah lama nih gak kesini”
Nicky: “iya nih, maaf yaa kita berdua jarang kesini. Mau mainan gak?”
Anak-anak: “MAU!!! yeay dapet mainan!!”
Nicky: “ya udah nih, satu-satu yaa semuanya...”
Gue dan Nicky mulai membagikan mainan kepada anak-anak itu.
Gue: “udah dapet semua belum nih??”
Anak-anak: “udah kak! makasih yaa!”
Nicky: “sama-sama, bu Tia nya ada dimana adek-adek?”
Anak-anak: “ada di ruangannya kak, masuk aja”
Nicky: “ohh gitu. Oke, eh, adek-adek, kak Nicky mau minta tolong bawain makanannya yaa, habis ini kita masak yang enak bareng-bareng, mau?”
Anak-anak: “mau!!”
Gue: “ada baju juga tuh buat kalian, pilih aja ya masing-masing! Tapi yang adil ya ngebaginya”
Anak-anak: “sip deh kakak”
Nicky: “ya udah, kakak sama kak Cindy ke ruangannya bu Tia dulu ya sebentar”
Anak-anak: “sip”
Gue sama Nicky menuju ruangan bu
Tia, pengurus panti asuhan ini. Dia juga yang nolongin gue dulu waktu masih
baru di Jakarta dan pernah nyasar. Kita masuk ruangannya.
Gue: “permisi bu...”
Bu Tia: “eh, ada kalian toh, pantas aja anak-anak ribut daritadi”
Nicky: “iya bu”
Bu Tia: “silahkan duduk”
Gue dan Nicky: “makasih ya bu”
Bu Tia: “sudah lama kalian gak kesini, ada apa ya?”
Nicky: “kita kangen aja bu sama suasana panti ini, sekalian lagi ada rejeki dan pengen berbagi”
Bu Tia: “hebat kamu Nick, walaupun sudah terkenal, tapi jiwa berbaginya masih tinggi”
Nicky: “ahh ibu bisa aja, ini sih gak ada apa-apanya bu”
Gue: “ehmm ini bu ada sebagian rezeki saya, mohon diterima ya, semoga bisa membantu anak-anak disini”
Nicky: “saya juga bu, ini ada sebagian rezeki saya, semoga bisa membantu panti asuhan ini”
Bu Tia: “terima kasih ya, ibu terima uangnya, semoga bisa bermanfaat. Ibu salut sama kalian, anak muda yang jiwa peduli dan berbaginya tinggi”
Gue dan Nicky: “sama-sama bu, senang bisa membantu”
Gue: “ohh iya bu, kita mau numpang masak dan makan bareng anak-anak disini, boleh kan?”
Bu Tia: “boleh, anak-anak pasti seneng deh”
Gue: “permisi bu...”
Bu Tia: “eh, ada kalian toh, pantas aja anak-anak ribut daritadi”
Nicky: “iya bu”
Bu Tia: “silahkan duduk”
Gue dan Nicky: “makasih ya bu”
Bu Tia: “sudah lama kalian gak kesini, ada apa ya?”
Nicky: “kita kangen aja bu sama suasana panti ini, sekalian lagi ada rejeki dan pengen berbagi”
Bu Tia: “hebat kamu Nick, walaupun sudah terkenal, tapi jiwa berbaginya masih tinggi”
Nicky: “ahh ibu bisa aja, ini sih gak ada apa-apanya bu”
Gue: “ehmm ini bu ada sebagian rezeki saya, mohon diterima ya, semoga bisa membantu anak-anak disini”
Nicky: “saya juga bu, ini ada sebagian rezeki saya, semoga bisa membantu panti asuhan ini”
Bu Tia: “terima kasih ya, ibu terima uangnya, semoga bisa bermanfaat. Ibu salut sama kalian, anak muda yang jiwa peduli dan berbaginya tinggi”
Gue dan Nicky: “sama-sama bu, senang bisa membantu”
Gue: “ohh iya bu, kita mau numpang masak dan makan bareng anak-anak disini, boleh kan?”
Bu Tia: “boleh, anak-anak pasti seneng deh”
Kami mulai masak sambil bercanda
dengan anak-anak. Sesekali, Nicky mencoretkan tepung di wajah gue, gue bales
dan akhirnya seisi ruangan dapur tertawa. Gak ada yang gak pasang ekspresi
bahagia sekarang, termasuk gue dan Nicky. Bisakah gue liat ekspresi ini lagi
setelah hari ini berakhir? Makanan yang kita buat udah jadi, semua pindah ke
ruang makan dan akhirnya makan. Selesai makan, gue sama Nicky pamit pulang.
Gue dan Nicky: “kita pamit pulang dulu ya bu, adek-adek”
Bu Tia: “iya, hati-hati di jalan yaa kalian”
Anak-anak: “makasih buat hadihah-hadiahnya hari ini ya kak, hati-hati di jalan, sering-sering main kesini”
Gue: “iya, sama-sama”
Gue dan Nicky kembali naik mobil dan jalan ke tempat berikutnya.
Gue: “kemana lagi kita?”
Nicky: “ke taman kosong”
Gue: “ngapain?”
Nicky: “main layangan, kita kan udah lama gak main layangan bareng. Kalau gak salah terakhir itu SMA kelas 1 ya?”
Gue: “iya bener”
Gue dan Nicky: “kita pamit pulang dulu ya bu, adek-adek”
Bu Tia: “iya, hati-hati di jalan yaa kalian”
Anak-anak: “makasih buat hadihah-hadiahnya hari ini ya kak, hati-hati di jalan, sering-sering main kesini”
Gue: “iya, sama-sama”
Gue dan Nicky kembali naik mobil dan jalan ke tempat berikutnya.
Gue: “kemana lagi kita?”
Nicky: “ke taman kosong”
Gue: “ngapain?”
Nicky: “main layangan, kita kan udah lama gak main layangan bareng. Kalau gak salah terakhir itu SMA kelas 1 ya?”
Gue: “iya bener”
Gue dari SD memang suka main
layangan sama Nicky. Tapi sampai sekarang, gue gak pernah bisa nerbangin
layangan. Makanya setiap gue main layangan, Nicky selalu nngebantuin gue buat
nerbangin layangannya, gak jarang dia megang tangan gue juga sambil nerbangin
layangan. Akhirnya kita sampai di sebuah taman kosong, kita main layangan
disana. Sama seperti dulu, gue masih belum bisa nerbangin layangan dan akhirnya
Nicky ngebantuin gue untuk nerbangin layangan itu. Nicky megangin tangan gue
yang lagi megang tali layangan. Apa ini terakhir kalinya gue bisa main layangan
berdua Nicky Tuhan?
Sore menjelang dan akhirnya kami
putuskan untuk meneruskan perjalanan. Di perjalanan, sama seperti yang gue
lakuin tadi adalah ngeliatin wajah Nicky. Sampai akhirnya gue tertidur. Saat
gue bangun, yang gue liat bintang-bintang. Gue terbaring di atas tikar di
sekitar danau yang tadi pagi. Gue mencium aroma jagung bakar, dan ternyata
benar, di sebelah kanan gue ada Nicky yang lagi bikin jagung bakar. Gue bangun
dan duduk di sebelah Nicky.
Nicky: “udah bangun Cin?”
Gue: “iya, kamu yang ngegendong aku sampai sini?”
Nicky: “iya, habisnya tadi di mobil kamu tidurnya pules banget sih, aku jadi gak tega banguninnya”
Gue: “maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu”
Nicky: “gak masalahlah, kamu gak ngerepotin kok. Mau jagung?”
Gue: “boleh”
Nicky: “udah bangun Cin?”
Gue: “iya, kamu yang ngegendong aku sampai sini?”
Nicky: “iya, habisnya tadi di mobil kamu tidurnya pules banget sih, aku jadi gak tega banguninnya”
Gue: “maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu”
Nicky: “gak masalahlah, kamu gak ngerepotin kok. Mau jagung?”
Gue: “boleh”
Jagung yang Nicky bakar akhirnya
matang, kita makan jagung itu. Selesai makan Nicky ngasih gue selembar kertas,
pulpen, korek, dan lilin.
Gue: “ini semua untuk apa?”
Nicky: “tulis aja harapan kamu buat hubungan kita kedepannya, setelah itu nyalain lilinnya dan bakar. Abunya boleh kamu jadiin pupuk pohon yang ada disini. Dan lilinnya boleh kamu lepas di danau itu. Biarkan harapan itu pergi bersama angin malam dan biarkan harapan itu terus tumbuh hanya dalam angan”
Gue: “kamu juga?”
Nicky: “iya”
Gue: “ini semua untuk apa?”
Nicky: “tulis aja harapan kamu buat hubungan kita kedepannya, setelah itu nyalain lilinnya dan bakar. Abunya boleh kamu jadiin pupuk pohon yang ada disini. Dan lilinnya boleh kamu lepas di danau itu. Biarkan harapan itu pergi bersama angin malam dan biarkan harapan itu terus tumbuh hanya dalam angan”
Gue: “kamu juga?”
Nicky: “iya”
Gue ngelakuin apa yang Nicky suruh.
Nulis harapan di kertas, bakar kertas itu lalu melepas lilinnya di danau.
Setelah gue selesai, gue nyamperin Nicky yang juga udah selesai ngelakuin
ritual pelepasan harapan yang dibuat sendiri sama Nicky tadi. Gue duduk di
sebelah Nicky dan meletakkan kepala gue di pundak Nicky.
Gue: “apakah kamu akan ngelupain semua kenangan indah kita?”
Nicky: “enggak, kenangan indah kita akan selalu ada dihatiku, begitu pula dengan cintaku buat kamu. Itu akan abadi, selamanya disitu dan seperti itu. Seperti keabdian bulan dengan malam dan matahari dengan siang”
Gue: “asal kamu tau, aku gak pernah menyesal mencintai kamu”
Nicky: “aku juga”
Gue: “apa ini takdir Tuhan buat cinta kita?”
Nicky: “entahlah, Tuhan pasti punya skenario yang indah buat cinta kita, mungkin memang belum saatnya kita bersatu”
Gue: “apakah kamu akan ngelupain semua kenangan indah kita?”
Nicky: “enggak, kenangan indah kita akan selalu ada dihatiku, begitu pula dengan cintaku buat kamu. Itu akan abadi, selamanya disitu dan seperti itu. Seperti keabdian bulan dengan malam dan matahari dengan siang”
Gue: “asal kamu tau, aku gak pernah menyesal mencintai kamu”
Nicky: “aku juga”
Gue: “apa ini takdir Tuhan buat cinta kita?”
Nicky: “entahlah, Tuhan pasti punya skenario yang indah buat cinta kita, mungkin memang belum saatnya kita bersatu”
Gue mulai mengeluarkan air mata,
gue gak bisa nahan itu sekalipun gue udah janji sama Nicky. Dan tanpa sengaja
gue juga liat Nicky meneteskan air mata walau hanya setetes. Nicky menghapus
air matanya dan kembali bicara.
Nicky: “aku mau kamu janji satu hal sama aku”
Gue: “janji apa?”
Nicky: “kamu harus bahagia sama kak Willy, belajarlah untuk mencintai dia”
Gue: “..........”
Nicky: “gimana? Apa kamu mau janji sama aku? Janji buat aku, karena kebahagiaan kamu itu kebahagiaanku juga”
Nicky: “aku mau kamu janji satu hal sama aku”
Gue: “janji apa?”
Nicky: “kamu harus bahagia sama kak Willy, belajarlah untuk mencintai dia”
Gue: “..........”
Nicky: “gimana? Apa kamu mau janji sama aku? Janji buat aku, karena kebahagiaan kamu itu kebahagiaanku juga”
Gue menghela nafas panjang lalu
menjawab “iya” dengan tegas.
Nicky: “udah malem nih, aku anterin kamu pulang yuuk!”
Nicky: “udah malem nih, aku anterin kamu pulang yuuk!”
Gue hanya mengangguk. Nicky
nganterin gue pulang. Sesampainya di depan rumah gue. Nicky bukain pintu mobil
tempat gue duduk. Gue keluar dan kita bicara sebentar.
Nicky: “okey, hari terakhir kita selesai. Mulai saat ini..... kita.....”
Nicky: “okey, hari terakhir kita selesai. Mulai saat ini..... kita.....”
Kata-kata Nicky terhenti, ini
terlalu berat untuk dia, untuk kita. Haruskah gue ngelepasin orang yang gue
cintai? Gak lama Nicky ngelanjutin lagi kata-katanya.
Nicky: “kita.... cuma sahabat kayak dulu, kita....... pu..tus...”
Mendengar itu langsung dari Nicky, rasanya dada gue bener-bener sesak.
Nicky: “udah, masuk gih!”
Nicky: “kita.... cuma sahabat kayak dulu, kita....... pu..tus...”
Mendengar itu langsung dari Nicky, rasanya dada gue bener-bener sesak.
Nicky: “udah, masuk gih!”
Gue jalan beberapa langkah lalu
berhenti, gue menengok ke arah Nicky yang masih di posisinya yang tadi, hanya
saja dia membelakangi gue. Gue denger Nicky menangis, gue juga gak kuat dan
akhirnya gue juga menangis sambil melihatnya yang menangis dengan membelakangi
gue. Mungkin dia gak mau nangis di depan gue, karena dia juga gak mau gue
nangis. Gue berlari ke Nicky dan memeluknya dari belakang.
Gue: “maaf, tapi aku gak bisa gak nangis denger kamu nangis”
Nicky: “maaf juga karena aku gak bisa nutupin perasaan aku, kalau aku juga gak bisa kehilangan kamu”
Gue ngelepas pelukan gue. Nicky berbalik badan dan memeluk gue. Gue juga bales meluk dia.
Gue: “aku cinta sama kamu”
Nicky: “aku juga cinta sama kamu”
Kita berpelukan dan menangis.
Nicky: “I hope you’re my destiny”ucap Nicky perlahan yang hanya gue sambut dengan “Amin” dalam hati.
Nicky ngelepas pelukannya lalu mencium kening gue.
Nicky: “udah dong nangisnya”
Nicky menghapus air mata di pipi gue.
Nicky: “senyum dong!”
Gue mamaksakan untuk tersenyum.
Nicky: “nah gitu dong, jangan nangis lagi ya.. aku gak mau liat kamu nangis lagi.. ya udah aku pamit pulang dulu yaa, malam Cindy”
Nicky masuk ke dalam mobilnya dan perlahan menjauh meninggalkan gue. Tuhan, haruskah hari ini berakhir? Haruskah cinta antara aku dan Nicky berakhir saat ini? Inikah takdirku?
Gue: “maaf, tapi aku gak bisa gak nangis denger kamu nangis”
Nicky: “maaf juga karena aku gak bisa nutupin perasaan aku, kalau aku juga gak bisa kehilangan kamu”
Gue ngelepas pelukan gue. Nicky berbalik badan dan memeluk gue. Gue juga bales meluk dia.
Gue: “aku cinta sama kamu”
Nicky: “aku juga cinta sama kamu”
Kita berpelukan dan menangis.
Nicky: “I hope you’re my destiny”ucap Nicky perlahan yang hanya gue sambut dengan “Amin” dalam hati.
Nicky ngelepas pelukannya lalu mencium kening gue.
Nicky: “udah dong nangisnya”
Nicky menghapus air mata di pipi gue.
Nicky: “senyum dong!”
Gue mamaksakan untuk tersenyum.
Nicky: “nah gitu dong, jangan nangis lagi ya.. aku gak mau liat kamu nangis lagi.. ya udah aku pamit pulang dulu yaa, malam Cindy”
Nicky masuk ke dalam mobilnya dan perlahan menjauh meninggalkan gue. Tuhan, haruskah hari ini berakhir? Haruskah cinta antara aku dan Nicky berakhir saat ini? Inikah takdirku?
**********
Part selanjutnya ditunggu aja yaa, diusahakan secepatnya kok :) Untuk komentar, kritik dan saran kalian kita tunggu yaa, mention aja komentar, kritik dan saran kalian ke @SNICKERS_JKT yaa :)
Part selanjutnya ditunggu aja yaa, diusahakan secepatnya kok :) Untuk komentar, kritik dan saran kalian kita tunggu yaa, mention aja komentar, kritik dan saran kalian ke @SNICKERS_JKT yaa :)
Nb:
maaf kalau ada salah-salah penulisan kata dan ceritanya agak lebay, maklum yaa
adminnya masih ababil hihhihi ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar